Para sahabat adalah orang yang paling antusias dalam menyempurnakan dan melakukan hal terbaik dalam beramal. Mereka juga antusias agar amalnya diterima. Mereka sangat takut amalnya ditolak dan tidak diterima. Mereka itulah sekelompok manusia yang Allah nyatakan dalam Al-Quran melalui firman-Nya,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka mengetahui bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah yang dimaksud) orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut adalah orang yang mencuri, berzina, minum khamar, kemudian mereka takut kepada Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak, wahai putri Abu Bakar. Mereka adalah orang yang shalat, berpuasa, bersedekah, namun mereka takut amal mereka tidak diterima.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Maka perhatian sahabat terhadap diterimanya amal itu lebih besar daripada perhatian mereka terhadap amal itu sendiri…
Diriwayatkan, bahwa Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jadilah orang yang perhatiannya terhadap diterimanya amal lebih besar daripada perhatian kalian terhadap amal itu sendiri. Tidakkah kalian mendengar firman Allah,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya Allah hanyalah menerima amal dari orang yang bertakwa.”
Diriwayatkan dari Fadhalah bin Ubaid, bahwa beliau mengatakan, “Andaikan saya mengetahui Allah menerima satu amalku seberat biji sawi, niscaya itu lebih baik bagiku daripada dunia seisinya, karena Allah berfirman (yang artinya), ‘Sesungguhnya Allah hanyalah menerima amal dari orang yang bertakwa.’”
Ibnu Dinar mengatakan, “Rasa takut tidak diterimanya amal itu lebih berat daripada amal itu sendiri.”
Abdul Aziz bin Abu Rawad mengatakan, “Saya bertemu para sahabat, dan mereka adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beramal shalih. Setelah mereka selesai beramal, mereka bingung apakah amal mereka diterima ataukah tidak.”
